Jumat, 21 Mei 2010

Pluralisme atau Toleransi?

Mulanya Romo Wage tidak keberatan Pak Wagu menitipkan buletin setiap hari Jumat untuk dibaca Jamaah Masjid setelah Sholat Jumat. Namun ketika suatu ketika Romo Wage membaca isinya, terperanjatlah dirinya.

Buletin yang dikemas cantik itu ternyata berisi propaganda orang-orang tertentu yang menganggap semua agama sama. Pada salah satu edisi buletin itu menyatakan bahwa Islam dan agama-agama lain sebenarnya menuju Tuhan yang sama, hanya cara ibadahnya saja yang berbeda-beda. Buletin itu juga terang-terangan membela eksistensi tokoh-tokoh aliran sesat dan mendesak umat Islam untuk membiarkan aktifitas orang-orang yang menyebarkan ajaran sesat di kalangan umat Islam, dengan alasan tidak boleh ada monopoli kebenaran. Bahkan mereka juga menganjurkan Umat islam untuk memperlakukan Al Quran sebagai buku biasa yang bisa direvisi isinya disesuaikan dengan budaya masakini.

Tentu saja Romo Wage keberatan dengan propaganda sesat seperti itu. Dirinya berserta pengurus masjid lainnya telah bersusah payah merintis pendirian masjid untuk membina akidah masyarakat sekitar, kini tiba-tiba Pak Wagu datang dengan buletinnya untuk mengacak-acaknya.

^_^

Pluralisme pada awalnya didefinisikan sebagai eksistensi bersama berbagai kelompok atau keyakinan di satu waktu dengan tetap terpeliharanya perbedaan-perbedaan dan karakteristik masing-masing. Jika pluralisme didefiniskan sebatas toleransi seperti itu, maka tidak ada masalah dengan pluralisme.


Namun belakangan ini telah bermunculan definisi pluralisme yang berbeda dari bentuk awalnya, sehingga pengertian pluralisme menjadi rancu. Sebagian pluralis bahkan memasukkan paham relativitas kebenaran dalam pluralisme.

Paham relativitas kebenaran adalah keyakinan akan tidak adanya kebenaran mutlak yang diketahui manusia. Seorang relativis akan menerima kebenaran apa saja, karena tidak memiliki pendirian apapun. Dia akan menganggap semua agama itu sama-sama baik dan benar, serta tidak ada satu agama-pun yang boleh memonopoli kebenaran.

Menurut John Hick agama-agama hanyalah persepsi dan konsepsi manusia terhadap Tuhan dan perbedaan antar agama terjadi karena adanya perbedaan kultur di antara bangsa-bangsa. Bagi John Hick semua agama pada hakekatnya adalah sama, mereka hanya menempuh yang berbeda menuju Tuhan yang sama. Tentu saja paham ini sangat bertentangan dengan Islam yang mengajarkan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan Islam berdasarkan wahyu dari Allah.

Diana L. Eck menyatakan bahwa pluralisme bukan sekedar toleransi antar umat beragama, bukan sekedar menerima pluralitas atau perbedaan, namun pluralisme adalah peleburan agama-agama menjadi satu wajah baru yaitu agama yang plural. Diana bahkan menyarankan agama-agama agar bersedia membuka diri dan menerima kebenaran yang ada pada agama lain karena bagi dia, setiap agama punya porsi kebenaran. Menurut Diana semua agama sama benarnya dan tidak ada agama yang lebih benar dari agama lain.

Ada lagi pluralis yang mengusung doktrin kesatuan agama-agama. Menurut Schuon agama dibagi menjadi dua, yaitu tingkat eksoterik (lahiriah) dan tingkat esoterik (batiniah). Pada tingkat lahiriah agama memiliki Tuhan, teologi & ajaran yang berbeda, namun pada tingkat batiniah agama-agama menyatu dan memiliki Tuhan yang sama yang abstrak dan tidak terbatas.

Dalam hubungannya dengan Islam, kini muncul kelompok pluralis yang menganggap semua konsep dan tatanan yang mapan dalam Islam adalah biang keladi kemunduran umat Islam (sebenarnya lebih tepat disebut kemunduran dunia timur dibanding dunia barat, karena bukan hanya orang Islam saja yang hidup di dunia timur).

Mereka beranggapan semua konsep dan tatanan yang mapan tersebut harus dirombak sedemikian rupa sehingga sesuai dengan perkembangan jaman. Tentu saja hal ini sangat erat kaitannya dengan ajaran pluralisme yang mencoba menyatukan agama-agama lewat doktrin-doktrin global yang berkembang di masyarakat barat.

Menurut mereka hal-hal yang diyakini secara tradisional oleh umat Islam harus disesuaikan dengan ide-ide global seperti doktrin hak asasi manusia, kesetaraan gender, sekularisme, humanisme dan ajaran modern lainnya. Karenanya banyak ajaran-ajaran kaum pluralis bertentangan dengan ajaran islam yang disebabkan penggunaan doktrin-doktrin tersebut sebagai patokan utama dalam memodifikasi aturan-aturan agama dan bukan berpegang pada kitab suci.

Ajaran pluralisme mennghadapi penolakan yang luas, karena tidak selayaknya firman-firman Allah yang mulia dirubah-rubah & dimodifikasi hanya untuk mengikuti doktrin orang barat yang kebetulan pada saat ini tengah mendominasi dunia. Misalnya soal homoseksualitas, selamanya homoseksualitas adalah sesat dan tidak dapat diterima dalam Islam, walaupun sebagian orang barat dapat menerimanya. Seperti halnya perjudian dan mabuk-mabukkan yang tidak akan pernah diterima dalam Islam.

Sebenarnya untuk mengharmonisasi keberagaman dapat dilakukan tanpa merubah keyakinan pemeluk agama. Langkah harmonisasi keberagaman hendaknya tidak mengutak-atik soal keyakinan. Cukup dengan mengatur hubungan antar umat beragama secara adminitratif, seperti pengaturan kehidupan bersama, saling membantu, dan kerjasama.

Lepas dari masih rancunya definisi pluralisme, lebih aman mempergunakan istilah toleransi dibanding pluralisme. Toleransi berarti menghargai penganut agama lain dan hak hidupnya. Sedangkan pluralisme dapat diartikan (paling tidak oleh sebagian penganutnya) sebagai ide penyatuan agama-agama yang pada akhirnya bukannya akan mengharmonisasi antar pemeluk agama, tetapi malahan menghancurkan agama-agama.

Ketika seorang pluralis mengklaim ajaran pluralisme adalah ajaran yang paling benar dan memaksa para pemeluk agama menganut pluralisme, berarti si pluralis hendak memaksa orang lain meninggalkan keyakinan akan kebenaran mutlak agamanya dan menggantinya dengan kebenaran mutlak pluralisme. Jika paham itu diikuti, maka agama-agama akan bergentayangan tanpa ruh karena telah tercabut dari ajaran yang menjadi karakteristiknya. Karenanya sangat tepat jika MUI menolak ajaran pluralisme.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar